![]() |
Pemain Persibat melakukan Istighotsah sebelum bertanding. (Foto : Twitter Persibat_com) |
Persibat Batang, adalah sebuah “tim ndeso” dari wilayah Pantura Jawa Tengah. Tim yang sebelumnya tidak diprediksi maju ke
Babak 16 Besar Liga 2 / 2017. Sebelum Babak Penyisihan Grup Liga
2 berlangsung, pecinta
sepakbola lebih menjagokan PSCS Cilacap mendampingi PSS Sleman, untuk maju ke
Babak 16 Besar Liga 2.
Fakta di lapangan, Persibat Batang lebih beruntung maju ke 16 Besar Liga 2, sedangkan PSCS Cilacap harus bertarung di Babak
Play-Off untuk mempertahankan diri di
Liga 2 musim depan.
Majunya Persibat Batang ke 16 Besar, tidak lepas dari kekuatan do’a yang dilakukan
segenap manajemen dan para pemain Persibat Batang. Saya pikir hampir setiap pertandingan sepakbola, semua tim pasti
melakukan do'a terlebih dulu. Dengan caranya sendiri, dengan Keyakinannya
sendiri.
Tujuan do'a dipanjatkan, adalah agar permainan lebih bagus,
semangat, dan berujung kemenangan.
Pelatih berpengalaman Daniel Roekito yang
saat ini membesut Persibat Batang, menggabungkan kekuatan taktik dan strategi dengan kekuatan religi. Segala urusan taktik dan strategi di lapangan,
telah diterapkan Daniel Roekito. Sedangkan kekuatan religi, para pemain
melakukan do’a bersama-sama atau disebut Istighotsah.
Daniel Roekito meyakini, bahwa kekuatan
taktik dan strategi akan percuma tanpa dilandasi kekuatan religi. Maka ia pun
bersinergi dengan jajaran manajemen dan para pemain Persibat Batang, untuk
melakukan do'a bersama sebelum bertanding. Istighotsah pun dipilih !
Menurut para
kyai dan alim ulama, Istighotsah atau melakukan do'a secara
massal mempunyai kekuatan yang cukup ampuh.
Apa itu Istighotsah ?
Kata Istighotsah berasal dari Al Ghouts, yang berarti pertolongan. Istighotsah adalah memohon
pertolongan kepada Allah SWT, untuk terwujudnya sebuah "keajaiban"
atas sesuatu yang dianggap sulit untuk diwujudkan.
Tahukah anda ? Satu hari sebelum laga
lawan tuan rumah Persita Tangerang, jajaran manajemen dan para pemain Persibat
Batang melakukan istighotsah. Sehingga Persibat Batang memenangkan laga dengan
skor 1-2.
Sebelum laga dimulai, sebenarnya
Persita lebih diunggulkan
dalam segala hal, antara lain ;
- Persita bertindak sebagai tuan rumah
- Persita adalah juara Grup B Babak
Penyisihan Liga 2/2017.
- Persita berpengalaman di kasta tertinggi sepakbola
Indonesia.
Sadar kalau Persita lebih unggul, Persibat Batang melakukan jalan lain dengan cara Istighotsah. Mereka ingin terwujudnya
sebuah "keajaiban" atas sesuatu yang dianggap sulit untuk diwujudkan.
Ternyata benar, Persibat Batang sukses
mengalahkan tuan rumah Persita Tangerang.
Berbicara Istighotsah dalam sepakbola,
saya jadi teringat penuturan mantan striker PSS Sleman Muhammad Eksan. M. Eksan pernah berkisah pada saya, ia
beberapa kali mampu mencetak gol sulit karena bantuan Istighotsah.
Ketika PSS Sleman masih berkutat di Kasta
Kedua Sepakbola Indonesia (dulu bernama Divisi I), Muhammad Eksan mampu
menjebol gawang Persewangi Banyuwangi, padahal posisi Eksan membelakangi gawang
dan dikawal beberapa pemain belakang Persewangi.
Kekuatan Istighotsah memang dahsyat. Di Sleman, Istighotsah dimasukkan ke ranah sepakbola oleh Haji Sukidi Cakrasuwignya. Kala itu Pak Sukidi menjabat sebagai Wakil Ketua Umum PSS Sleman.
Pak Sukidi
yang dikenal "Simbahnya sepakbola Sleman", rajin memimpin istighotsah
diantara para pemain PSS Sleman.
Satu hari sebelum laga, para pemain PSS Sleman membiasakan diri
melakukan Istighotsah demi "kemenangan" PSS
Sleman.
Langkah sakral ini membuahkan hasil, kemenangan demi kemenangan diraih PSS
Sleman karena bantuan Istighotsah, hingga pada suatu masa, tim berjuluk Elang Jawa ini sukses naik
ke Kasta tertinggi Sepakbola Indonesia (dulu bernama Divisi Utama).
Apakah dengan Istighotsah Persibat Batang akan menapak tilasi PSS Sleman ?
Ingat, Jangan sepelekan kekuatan do'a secara massal bernama Istighotsah.
Persibat Batang adalah "tim ndeso", sebuah sebutan yang sama persis ketika PSS Sleman naik pangkat ke Divisi Utama kala itu.
No comments:
Post a Comment